Kamis, 10 Maret 2011

Suku Rimba

Orang Rimba atau lazim disebut Suku Anak Dalam adalah sebuah entitas etnik minoritas yang namanya sangat populer dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik kerap menurunkan pemberitaan mengenai etnik tersebut. Namun mungkin dikarenakan keterbatasan ruang maupun waktu, pemberitaan itu sering sepenggal-sepenggal. Hal itu meninggalkan sebuah pertanyaan besar di benak banyak orang. “Seperti apakah sesungguhnya kehidupan mereka?” Naskah ini adalah jawaban bagi pertanyaan itu.

Apa yang diharapkan orang ketika mulai membaca sebuah naskah tentang etnik minoritas? Tipikal, rata-rata orang berharap untuk membaca sebuah eksotisme kehidupan. Sesuatu yang aneh, mencengangkan, langka dan mengejutkan diharapkan ada dalam naskah itu. Semoga naskah ini tidak mengecewakan dari sisi eksotisme. Bagaimanapun sebuah eksotisme dalam arti sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda adalah sesuatu yang sangat subjektif. Sesuatu yang eksotik menurut seseorang belum tentu eksotik menurut orang lain. Memuaskan semua orang adalah sesuatu yang sulit. Lebih sulit daripada apapun kata Kahlil Gibran. Lagipula sebuah eksotisme tentang kehidupan tidak bisa dicari-cari layaknya imajinasi. Ia ada jika memang ada. Jadi, akan tinggal tergantung anda apakah anda menangkap sebuah eksotisme atau tidak.

Orang Rimba tersebar diberbagai lokasi berbeda di hutan-hutan Jambi. Mereka terdiri dari kelompok-kelompok berbeda dibawah temenggung atau kepala suku yang berbeda pula. Orang Rimba yang menjadi subjek dalam buku ini adalah Orang Rimba kelompok Makekal Hulu yang dipimpin oleh Temenggung Segrip. Ruang hidup mereka adalah daerah barat Taman Nasional Bukit Duabelas. Apabila tidak menyebutkan nama kelompok lain, berarti yang dimaksud adalah kelompok Makekal Hulu. Lokasi desa terdekat kelompok ini adalah desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

Orang Rimba adalah masyarakat hutan yang benar-benar tinggal dan hidup didalam keteduhan hutan. Mereka memanfaatkan seluruh ruang hutan bagi kehidupan. Filosofi hidup mereka pun bersumber pada kehidupan hutan. Jumlah mereka sangat sedikit, sekitar 3000 jiwa. Jauh lebih sedikit daripada mahasiswa UGM jogja yang berjumlah sekitar 50 ribu mahasiswa. Jumlahnya hanya setara dengan jumlah dosen UGM. Satu desa di pedesaan pulau jawa saja masih lebih banyak penduduknya. Namun demikian, mereka menikmati kepopuleran nasional dan bahkan internasional.

Kehidupan yang unik dan eksotik adalah sebab kepopuleran mereka. Ditengah derap dunia yang melaju cepat, mereka masih saja terkungkung dalam kehidupan seperti yang dilaksanakan nenek moyang mereka ratusan atau bahkan ribuan tahun yang silam. Mereka berkeyakinan bahwa merubah alam adalah pembangkangan terhadap kehendak Tuhan dan merupakan pelanggaran adat. Namun sebenarnya mereka juga berubah, meski perlahan. Interaksi dengan masyarakat luar hutan dan perubahan lingkungan yang begitu cepat dalam beberapa dekade terakhir memaksa mereka untuk menyesuaikan diri. Orang Rimba saat ini adalah Orang Rimba yang sedang berubah.

Kehidupan Orang Rimba dalam buku ini adalah kehidupan kekinian yang benar-benar dijalani saat ini. Siapakah sebenarnya Orang Rimba, dimana mereka tinggal, bagaimana lingkungan hidup mereka, bagaimana dunia batin mereka, bagaimana penghidupan mereka, bagaimana kehidupan sosial dan gaya hidup mereka, adalah tema-tema yang coba dipaparkan. Selain itu dipaparkan pula mengenai sekolah rimba yang diselenggarakan untuk mereka didalam hutan dan kondisi emosi mereka. Tidak ketinggalan adalah pergulatan Orang Rimba dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat di sekeliling mereka.

Perkenalan dengan Orang Rimba dimulai pada akhir tahun 2003. Saat itu, Johan Weintre, teman dari negeri seberang laut, membawa setumpuk naskah dan data mengenai Orang Rimba yang merupakan hasil perjalanannya ke komunitas Orang Rimba di pedalaman Jambi. Saya kemudian menekuni naskah tersebut. Hasilnya tidak mengejutkan, saya menjadi sangat ingin untuk datang dan melihat langsung serta berinteraksi dengan Orang Rimba.

Sejak saat itu saya mulai memikirkan cara untuk dapat melakukan perjalanan ke Jambi. Beruntung saat itu saya belum menyusun skripsi. Jadi saya bisa pergi ke sana untuk memuaskan keinginan sekaligus sebagai perjalanan skripsi. Setelah proses beberapa minggu mencari tema penelitian, akhirnya saya memutuskan untuk meneliti mengenai emosi. Pada bulan september 2004, proposal saya yang berjudul ‘Emosi Orang Rimba’ disetujui. Bulan berikutnya saya sudah pergi dari Jogja dan memulai perjalanan untuk selama lebih dari setengah tahun. Pada awal November 2004 saya sudah berada di jambi. Dimulai saat itulah saya berinteraksi dengan Orang Rimba sampai dengan awal Mei 2005. Diselingi berbagai vakum interaksi, total sekitar 5 bulan saya benar-benar melakukan interaksi dengan Orang Rimba.

Pengalaman berinteraksi dengan Orang Rimba dan lingkungan sekelilingnya serta disintesakan dengan berbagai literatur mengenai Orang rimba menghasilkan keseluruhan isi naskah ini. Namun demikian naskah ini sesungguhnya hanyalah laporan perjalanan.

Orang Rimba sebagai salah satu etnik minoritas di Indonesia.

Orang Rimba atau lebih dikenal dengan sebutan Suku Anak Dalam merupakan salah satu etnik minoritas di Indonesia. Di keteduhan hutan hujan dataran rendah Sumatera mereka hidup dan mempertahankan tradisi budaya dari nenek moyang yang berpusat pada hutan sebagai sumber filosofinya. Kehidupan mereka relatif tidak banyak berubah dibandingkan dengan kehidupan nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Mereka masih berburu, memungut, dan meramu hasil hutan. Saat ini sebagian dari mereka juga telah berladang. Oleh masyarakat luas mereka dikenal sebagai kelompok yang suka berpindah-pindah. Namun tidak seperti yang diduga banyak orang, mereka tidak berpindah secara terus menerus sepanjang waktu. Pada dasarnya mereka menetap. Mereka hanya berpindah apabila terjadi kematian salah satu anggota kelompoknya saja atau bila ada penyakit yang mewabah. Namun karena tingkat kematian yang tinggi, perpindahan sering terjadi. Akibatnya mereka terkesan sebagai kelompok nomaden.

Penggemar film dokumenter tentunya pernah menonton film mengenai kehidupan suku-suku asli rimba. Diantaranya adalah yang hidup di kedalaman hutan hujan amazon di Brazil yang diproduksi oleh National Geographic Society dan Discovery Channel. Filmnya banyak beredar di Indonesia dalam bentuk VCD. Kehidupan Orang Rimba sedikit mirip dengan kehidupan suku-suku tersebut. Beberapa stasiun televisi nasional juga pernah menayangkan film dokumenter mengenai kehidupan Orang Rimba. Meski tentu saja hanya sebagian kecil dimensi kehidupan Orang Rimba yang terekam dan ditayangkan.

Pedalaman Jambi merupakan ruang hidup Orang Rimba. Namun selain menjadi tempat hidup mereka, pedalaman Jambi juga merupakan rumah bagi etnik minoritas lain, yakni Orang Batin Sembilan. Bersama dengan Orang Rimba, Orang Batin Sembilan dikenal masyarakat luas dengan sebutan Orang Kubu. Bahkan tidak hanya itu, wilayah pedalaman Jambi dan bagian pulau sumatera bagian tengah lainnya juga menjadi ruang hidup beberapa etnik minoritas yang berbeda. Disana hidup Orang Sekak, Orang Talang Mamak, Orang Sakai, Orang Lom, Orang Duano, Orang Akit, Orang Bonai dan beberapa lainnya. Mereka hidup tersebar mulai dari kawasan pantai sampai di dekat kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ruang hidup mereka bervariasi. Ada yang mendiami kawasan hutan di antara sungai-sungai besar, di rawa-rawa pantai, maupun di pulau-pulau lepas pantai.

Jumlah keseluruhan Orang Rimba yang tersebar di seluruh pedalaman Jambi diperkirakan antara 2000 sampai 3000 orang. Jumlah yang sangat kecil ini menegaskan betapa minoritasnya Orang Rimba. Keseluruhan jumlah Orang Rimba hanya setara dengan jumlah penduduk satu desa di pulau Jawa, bahkan mungkin lebih besar jumlah penduduk satu desa di pulau jawa. Bandingkan misalnya dengan jumlah etnis Jawa yang berkisar 90 juta orang atau etnis Dayak yang berjumlah kira-kira 2 juta jiwa.

Selain berjumlah kecil, Orang Rimba merupakan kelompok marginal. Meski tidak sepenuhnya terisolasi, mereka memiliki akses sangat terbatas untuk mengikuti gerak dunia modern. Mereka hampir tidak tersentuh pendidikan formal. Tidak mengherankan apabila mereka tidak memiliki akses kekuasaan di pemerintahan sama sekali. Lantas menjadi tidak aneh apabila Orang Rimba menjadi kelompok yang sangat lemah. Ketika hutan mereka yang kaya kayu dijarah, mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa meratapi hutan yang dihancurkan, yang berarti pertanda bahwa kehidupan mereka terancam.

Pengakuan terhadap eksistensi Orang Rimba secara legal hukum oleh negara belum lama diberikan. Itupun tidak secara langsung. Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas baru mendapat pengakuan sah dari pemerintah melalui surat keputusan penetapan hutan Bukit Duabelas menjadi taman nasional pada tahun 2000. Dalam penetapan itu disebutkan bahwa selain untuk konservasi, taman nasional juga menjadi cagar bagi Orang Rimba agar kehidupan dan penghidupan mereka di dalam hutan terjaga. Taman nasional ditetapkan sebagai perlindungan bagi Orang Rimba.

Manakah yang tepat ; Orang Rimba, Suku Anak Dalam, atau Kubu?

Orang Rimba merupakan salah satu nama. Ada penamaan lain sebagai identitas mereka, seperti Kubu, Orang Dalam, Sanak, dan Suku Anak Dalam. Sejak berabad-abad yang lalu, masyarakat umum mengenal kelompok Orang Rimba sebagai Orang Kubu. Sampai saat inipun, masih banyak anggota masyarakat yang menyebut mereka dengan sebutan kubu. Istilah kubu juga menjadi nama internasional bagi Orang Rimba. Hal ini disebabkan peran para etnographer awal abad ini yang selalu menyebut Orang Rimba sebagai kubu dalam tulisan-tulisannya. Akibatnya melekatlah nama kubu sebagai istilah resmi dalam literatur.

Saat ini kata kubu sangat dekat berasosiasi dengan sesuatu yang berbau primitif, kotor, dan tidak tahu sopan santun. Oleh orang-orang di desa-desa pinggir hutan, kata kubu digunakan untuk kata ejekan. Bila diterangkan tidak mengerti-mengerti akan disebut “memang kubu!” Maksudnya ‘bodoh’. Bila anak-anak disuruh mandi tidak mau, merupakan hal biasa bila orangtua mereka menakut-nakuti “tidak mau mandi, mau jadi Orang Kubu?!” Bila bertindak tidak mengikuti sopan santun menurut ukuran orang desa itu, adalah hal biasa bila diumpat “dasar kubu!”

Kebanyakan Orang Rimba pada saat ini enggan disebut kubu. Bahkan, ada Orang Rimba yang mengatakan pada saya bahwa dirinya sangat marah kalau disebut sebagai kubu. Hal itu mereka anggap sebagai ejekan. Secara konotatif, kubu memang bermakna negatif, yakni bodoh, bau dan jorok. Mereka lebih senang disebut sebagai Orang Rimba. Pada saat berbincang-bincang dengan mereka, untuk menyebut kelompok mereka sendiri, mereka sering mengatakan “kami Orang Rimbo...” Oleh sebab itulah dalam buku ini mereka disebut sebagai Orang Rimba.

Tidak jarang mereka juga menyebut diri mereka sendiri sebagai Orang Dalam. Sebab mereka adalah orang yang tinggal ‘didalam’ hutan sedangkan orang-orang desa dan lainnya tinggal ‘diluar’ hutan. Orang Rimba memiliki kosa kata khusus untuk menyebut orang desa dan semua orang yang bukan Orang Rimba yakni Orang Terang. Mungkin istilah itu berasal dari adanya perbedaan suasana tempat tinggal. Hutan tempat tinggal Orang Rimba selalu teduh karena terlindung oleh pepohonan hutan yang besar-besar dan tinggi. Sedangkan wilayah orang desa dan lainnya selalu terang karena jarangnya pepohonan.

Mula-mula saya menyebut Orang Rimba sebagai Suku Anak Dalam sebagaimana koran-koran dan televisi mempopulerkan demikian. Akan tetapi nyatanya ada Orang Rimba yang tidak tahu dengan istilah itu. Mereka malah balik bertanya, “Suku Anak Dalam tu apo?” Saya sempat kaget, mengapa yang diberi nama malah tidak tahu dengan namanya sendiri.

Suku Anak Dalam merupakan nama yang jauh lebih populer di mata masyarakat Indonesia daripada nama Orang Rimba. Hal itu merupakan peran media massa yang selalu mengekspos mereka dengan sebutan demikian. Pemerintah RI sendiri agaknya menggunakan nama Suku Anak Dalam sebagai istilah resmi. Hal ini terbukti dari penggunaan nama Suku Anak Dalam didalam berbagai dokumen resmi dinas-dinas pemerintahan.

Masyarakat desa di sekitar kawasan tempat tinggal Orang Rimba menyebut Orang Rimba sebagai sanak, yang memiliki arti harfiah ‘saudara’. Pada awalnya panggilan sanak untuk Orang Rimba diberikan oleh orang Minangkabau, namun kemudian seluruh masyarakat di sekitar hutan ikut-ikutan memanggil mereka dengan sebutan sanak. Ketika berbincang-bincang dengan masyarakat desa dan merujuk pada Orang Rimba, sayapun menyebut mereka dengan kata ganti sanak.

Dimana Orang Rimba tinggal?

Orang Rimba secara tradisional hidup di kawasan pulau Sumatera bagian tengah yang tercakup dalam wilayah administratif provinsi Jambi. Mereka tersebar di berbagai lokasi yang berbeda-beda, misalnya di selatan sungai Tembesi, di antara sungai Tembesi dan Merangin, di Taman Nasional Bukit Duabelas, dan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Jumlah keseluruhan Orang Rimba diseluruh lokasi berkisar antara 2000 sampai 3000 jiwa. Populasi Orang Rimba terbesar berada di kawasan Taman nasional Bukit Duabelas. Berdasarkan sensus LSM Warsi pada tahun 2004, jumlah Orang Rimba yang hidup dikawasan Taman Nasional Bukit Duabelas adalah 1316 jiwa. Mereka tercakup dalam 3 kelompok besar, yakni kelompok Makekal, kelompok Kejasung, dan kelompok Air Hitam. Kelompok Makekal, khususnya Makekal Hulu yang tinggal di wilayah selatan-barat daya Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan Orang Rimba yang dibicarakan dalam buku ini.

Kawasan hutan Bukit Duabelas sebagai wilayah ruang hidup Orang Rimba ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh pemerintah pada tahun 2000. Luas areal keseluruhan 60.500 hektar. Penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 258/Kpts-II/2000, tertanggal 23 Agustus 2000. Penetapan tersebut terutama diperuntukkan untuk perlindungan bagi Orang Rimba sebagai indigenous people di kawasan tersebut. Saat ini pengelolaan taman berada di tangan Dinas Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Taman Nasional Bukit Duabelas, lazim disingkat TNBD, terletak diantara 01o45’58” lintang selatan dan 102o03’02” bujur timur. Ketinggiannya berkisar dari 50 sampai 438 diatas permukaan laut. Tingkat kelerengannya antara 2-40%. Didalam kawasan tersebut terdapat beberapa sungai dengan anak-anak sungai yang menyerupai serabut akar tunggang. TNBD merupakan kawasan hutan hujan dataran rendah Sumatera yang masih tersisa dan merupakan daerah tangkapan air untuk daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, dengan Sub DAS Air Hitam Hulu, Sub DAS Kejasung, dan Sub DAS Makekal. Nama Bukit Duabelas diperoleh dari keberadaan duabelas bukit yang membujur dari timur ke barat. Bukit tertinggi adalah bukit Kuran dengan ketinggian 438 dpl.

Secara administratif TNBD tercakup dalam tiga wilayah kabupaten, yakni Sarolangun, Batanghari dan Tebo. Kecamatan yang mencakup wilayah TNBD adalah kecamatan Air Hitam dan Mandiangin (Sarolangun), kecamatan Tebo Ilir (Tebo) dan Maro Sebo Ulu (Batanghari). Untuk memasuki kawasan TNBD, perizinan tidak melalui dinas pemerintahan tetapi melalui pengelola kawasan, yakni dinas BKSDA Jambi.

Apabila berkeinginan memasuki Taman Nasional Bukit Duabelas, perizinan harus diurus di Dinas BKSDA Jambi yang beralamat di Jl. Arief Rahman Hakim No. 10B Lt. 2, Telanai Pura, Jambi, kode pos 36124, atau melalui Seksi Konservasi Wilayah I Bangko, Jl. Jendral Sudirman Km 3, Bangko. Pos terdekat BKSDA dengan kawasan Taman adalah pos BKSDA di desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

ASAL USUL ORANG RIMBA

Menurut sebagian ahli, Orang Rimba dan Orang Melayu memiliki nenek moyang yang sama. Hal itu dilihat dari kemiripan budaya, bahasa, dan rupa fisik. Namun demikian asal dari nenek moyang orang Melayu dan Orang Rimba belum disepakati secara tegas oleh para ahli. Sampai saat ini masih terjadi perbedaan pendapat mengenai daerah asal usul nenek moyang orang Melayu dan Orang Rimba. Diperkirakan keberadaan Orang Rimba di pulau Sumatera dimulai sekitar 4000 tahun sebelum masehi, bersamaan dengan kedatangan kelompok manusia dari benua Asia, yakni dari daerah Yunan yang termasuk di dalam wilayah Cina Selatan. Mereka dikenal sebagai Melayu Tua atau Proto Melayu yang memiliki peradaban sangat sederhana. Menurut sebagian ahli, ras inilah yang menurunkan Orang Rimba.

Gelombang kedua kedatangan nenek moyang orang Melayu terjadi sekitar tahun 2500 sebelum masehi. Mereka diperkirakan datang dari daerah Dongson di sebelah utara Vietnam. Dimungkinkan mereka membawa teknologi dan keterampilan yang lebih canggih dibandingkan kelompok yang datang dari daerah Yunan. Di pulau Sumatera kedua kelompok bertemu dan bercampur melahirkan ras Deutro-Melayu. Menurut perkiraan sebagian ahli yang lain, ras Deutro-Melayu yang melahirkan Orang Melayu dan Orang Rimba.

Sejak ratusan tahun lalu, paling tidak sejak tahun 1500-an sesuai catatan para penjelajah eropa, Orang Rimba telah melakukan hubungan dagang dan menjalin hubungan kekuasaan dengan kerajaan Jambi. Orang Rimba membayar upeti (jajah) kepada kerajaan berupa barang yang bisa didagangkan dan hasil kerajinan agar keberadaan Orang Rimba diakui dan tidak diusik. Pada akhir abad 19 ketika masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sedang kokohnya, banyak pejabat pemerintahan yang membuat catatan mengenai Jambi, khususnya mengenai keberadaan Orang Rimba yang saat itu disebut dengan Orang Kubu. Menurut sebagian catatan itu diceritakan bahwa Orang Kubu (termasuk Orang Rimba) adalah orang-orang yang mengalami tekanan kehidupan yang sangat keras dari Orang Melayu. Banyak Orang Kubu ditangkap orang Melayu untuk dijadikan budak. Oleh karena itulah Orang Rimba berupaya menjalin hubungan baik dengan pihak kerajaan agar aman.

Mitos riwayat asal muasal Orang Rimba memiliki beberapa versi yang berbeda. Namun demikian hampir seluruh versi itu sama-sama mengklaim bahwa pada awalnya Orang Rimba dan orang Melayu merupakan satu kelompok yang sama. Salah satu versi menyebutkan bahwa pada abad ke 11, di Jambi telah berdiri kerajaan maritim Sriwijaya yang menguasai sebagian selat Malaka dan memiliki hubungan internasional. Pada tahun 1025, kerajaan Chola dari India Selatan menaklukan Sriwijaya dan menguasainya. Pada saat itu, sebagian penduduk Sriwijaya yang tidak mau dikuasai orang asing berpindah ke hutan dan seterusnya hidup di hutan. Mereka ini disebut Orang Kubu, yang salah satu variasinya adalah Orang Rimba. Istilah kubu dimungkinkan bermakna benteng, yang bisa diartikan sebagai membangun benteng dengan mendirikan komunitas baru di daerah terpencil dan jauh di pedalaman hutan.

Riwayat lain mengkisahkan bahwa konon pada waktu lampau, raja Pagaruyung, yakni Daulat Yang Dipertuan, setelah sholat duduk di atas kura-kura besar yang disangkanya batu di pinggir sungai. Dia bersirih dan membuang sirihnya ke dalam sungai. Sirih tersebut dimakan oleh kura-kura. Setelah memakan sirih yang dibuang sang raja, si kura-kura hamil dan melahirkan anak manusia laki-laki. Kabar bahwa ada kura-kura memiliki anak manusia sampai ke telinga raja. Lalu dipanggillah anak tersebut ke istana. Akhirnya diakuilah anak tersebut sebagai anaknya oleh sang raja. Setelah dewasa, anak tersebut akan dijadikan raja di kota Tujuh, Sembilan Kota, Pitajin Muara Sebo, Sembilan Luruh sampai daerah terpencil Jambi. Namun sebagian penduduk tidak setuju karena anak tersebut adalah anak kura-kura. Sebagai bentuk penolakan, mereka menyingkir ke hutan dan hidup disana. Jadilah mereka Orang Rimba.

Menurut cerita lisan yang saya dengar dari beberapa Orang Rimba di TNBD, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang Padang (Minangkabau) di Sumatera Barat. Pada awalnya mereka semua berkampung sampai kedatangan orang Belanda. Karena enggan dikuasai oleh orang asing, mereka melakukan perlawanan. Namun karena tidak kuat melawan maka mereka lari. Sebagian dari mereka lari ke hilir (ke arah laut) dan sebagian ke arah hulu (ke gunung). Mereka yang menyingkir ke hilir menjadi Orang Minangkabau, sedangkan mereka yang menyingkir ke gunung dan hutan menjadi Orang Rimba. Lama kelamaan, karena ingin menghindari orang asing mereka sampai di jambi.

Versi lain mitos asal usul Orang Rimba berkaitan dengan sebuah cerita mengenai Putri Pinang Masak. Konon kabarnya, pada zaman dahulu kala Jambi dipimpin oleh Ratu Putri Selaras Pinang Masak yang berasal dari kerajaan Pagaruyung dari wilayah Sumatera Barat kini. Pada suatu masa, terjadilah pertentangan dengan raja Kayo Hitam yang berkuasa di lautan sampai dengan Muara Sabak (daerah Kuala Tungkal saat ini). Sang ratu merasa kewalahan sehingga ia meminta bantuan ke Pagaruyung. Maka dikirimkanlah serombongan pasukan oleh raja Pagaruyung. Namun belum sampai di Jambi, rombongan pasukan tersebut kehabisan bekal di sekitar wilayah TNBD sekarang. Akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di dalam rimba karena apabila kembali ke Pagaruyung akan dihukum, sedangkan bila meneruskan perjalanan sudah tidak memiliki bekal lagi. Mereka juga bersepakat untuk tidak tunduk kepada siapapun, baik kepada raja Pagaruyung maupun ratu Jambi. Merekalah yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

Dari salah seorang Orang Rimba Makekal, didapat cerita mengenai Bujang Perantau sebagai nenek moyang Orang Rimba. Diceritakan bahwa Bujang Perantau berasal dari Pagaruyung. Ia tinggal sendiri di dalam sebuah rumah di dalam hutan. Pada suatu hari ia memperoleh buah gelumpang. Pada malam hari ia bermimpi agar membungkus buah gelumpang dengan kain putih. Oleh bujang perantau mimpi tersebut dilaksanakan. Lalu muncullah putri cantik dari buah gelumpang yang dibungkus. Mereka berdua lalu kawin. Namun karena tidak ada yang mengawinkan maka mereka meniti batang kayu yang melintang diatas sungai. Pada saat kening mereka beradu, maka berarti perkawinan mereka sah. Dari hasil perkawinan mereka lahirlah empat orang anak, yakni Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, dan Putri Pinang masak.

Anak pertama dan terakhir, yakni Bujang Malapangi dan Putri Pinang Masak keluar dari hutan dan kemudian menjadi Orang Terang. Bujang Malapangi berkampung di desa Tana Garo. Putri Pinang Masak berkampung di Tembesi. Sedangkan Dewo Tunggal dan Putri Gading tetap tinggal di dalam hutan, yakni di wilayah hutan bukit Duabelas. Kedua anak dari Bujang Perantau yang tinggal di dalam hutan yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

Mitos mengenai asal usul Orang Rimba menceritakan kepada kita setidaknya dua hal penting. Pertama, Orang Rimba mencoba mengaitkan asal-usul mereka dengan orang Melayu. Hal ini merupakan fakta penting. Sangat mungkin kebutuhan akan keberakaran atau asal usul merupakan pendorong terjadinya cerita semacam itu. Ketidakjelasan asal-usul secara psikologis akan menyebabkan kekosongan identitas. Kondisinya mungkin hampir serupa dengan seorang anak yang hidup sendirian dan tidak tahu siapa orangtuanya. Sang anak akan mencari tahu asal-usulnya karena tanpa tahu asal-usul ia merasakan suatu kekosongan identitas. Langkah logis pertama yang akan dilakukannya adalah mengkaitkan dirinya dengan kelompok yang secara fisik mirip dengannya dan paling sering ditemuinya. Apabila ternyata asal-usul orangtuanya tidak dapat ditelusuri lagi, maka biasanya kesadaran akan kelompok sudah cukup. Demikian juga yang terjadi pada Orang Rimba. Paling logis yang dilakukan adalah mengkaitkan riwayat asal-usul dengan orang Melayu yang secara fisik tidak banyak berbeda.

Kedua, sebagian besar cerita mengarah kepada orang Minangkabau, yang merupakan salah satu varian dari orang Melayu sebagai nenek Moyang Orang Rimba. Pengkaitan itu sulit dikatakan sebagai sebuah kebetulan. Tentu ada sebuah kesengajaan adanya mitos tersebut. Sebenarnya lebih masuk akal apabila Orang Rimba mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi, yakni kelompok yang tinggal di dekat mereka dan merupakan kelompok yang paling sering berhubungan dengan mereka. Bahkan mereka pernah secara struktural mengakui keberadaan raja Jambi.

Terlepas benar tidaknya Orang Rimba berasal dari ranah minang dan memiliki nenek moyang orang Minangkabau, tampaknya ada alasan psikologis dibalik penciptaan mitos asal-usul Orang Rimba yang hampir selalu menyebutkan orang Minangkabau sebagai nenek moyang mereka. Mitos itu mungkin diciptakan sebagai perlawanan terhadap tekanan yang dilakukan kelompok Melayu Jambi terhadap Orang Rimba. Pada masa lalu di Jambi terdapat perbudakan. Orang Melayu Jambi mencari budak dengan cara menangkapi Orang Kubu (termasuk Orang Rimba). Setelah ditangkap, Orang Rimba dijadikan budak dan dipaksa melakukan berbagai pekerjaan. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami Orang Rimba tidak hanya itu, mereka juga diharuskan membayar upeti kepada pihak penguasa. Oleh sebab itulah mereka merasa tidak nyaman jika mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi. Maka langkah paling logis adalah mengkaitkan nenek moyang mereka dengan orang Minangkabau, yakni kelompok yang tinggal tidak jauh dari mereka, cukup sering berinteraksi, mirip secara fisik, dan terpenting tidak melakukan tindakan yang tidak menyenangkan.

Sumber :
http://www.goodreads.com/story/show/2412-orang-rimba-menantang-zaman?chapter=1
http://www.goodreads.com/story/show/2412-orang-rimba-menantang-zaman?chapter=2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar